Tapal Batas

Langit berwarna kemerahan, menandakan pergantian siang menuju malam. Senja, mungkin itu kata2 yang lebih tepat untuknya. Seorang bocah lelaki dengan usia belasan tahun tengah menikmati dinginnya semilir angin sore di pojokan beranda rumahnya dengan membaca komik serial kesayangannya.

Aku menghampirinya, kemudian perlahan duduk di sebelahnya. Menyadari kehadiranku, sejenak ia berpaling dari komiknya. Namun tak lama kemudian ia kembali tenggelam dalam cerita fiksi di tangannya. Aku berguman pelan, lebih kepada diriku sendiri daripada kepada bocah itu. Namun kemudian, dengan maksud lain, aku sedikit mengeraskan suaraku, agaknya ia mau tak mau mengalihkan perhatian dari komik di genggamannya kepada diriku.

Dirinya hanya tercenung, tak berkutik, tanpa tanggapan apapun ketika aku bertanya padanya, “Apa warna hidup yang telah kamu lalui sampai saat ini?”. Hanya mematung, tampak keras berpikir tanpa kata-kata.

Lama tenggelam dalam diam, akhirnya ia berkata juga, “Aku nggak mengerti maksud pertanyaan kakak.”

Alih-alih menjelaskan ataupun bertanya ulang dengan menyederhanakan kata-kata, aku hanya membalas dengan segaris senyum tipis.

“Kak, aku betul-betul tidak mengerti. Dan karena kakak bertanya seperti itu, sekarang aku jadi kepikiran. Jangan buat aku mati penasaran. Ayolah, kak, pliiisss…”, renggutnya dengan manja. Ah, aku jadi semakin gemas untuk menggodanya. Sengaja kuulur-ulur waktu, menikmati raut keheranan di wajahnya. Adikku memang polos sekali, hahaha.

“Senja yang syahdu, warnanya memancarkan kehidupan yang sudah kulalui”, kalimat itu terngiang kembali di pikiranku. Bukan aku, juga bukan adikku, tetapi seorang teman masa kecil yang mengatakan hal demikian kepadaku beberapa saat yang lalu, Awang namanya. Seorang penderita gangguan usus sejak kecil (yang aku lupa nama “keren”nya), yang selalu bermimpi untuk melihat pelangi tanpa terhalang kaca jendela rumah sakit.

“Kapan ya gw ngga ujian di rumah sakit?”, ucapnya di suatu hari. Kata-kata apa adanya yang terucap dari bibir temanku, yang saat itu masih SD, membuat hati miris mendengarnya. Untuk seorang Awang, perjuangannya sama sekali tidak menunjukkan ke-bocah-SD-annya.

Kenangan akan Awang terus bergulir pelan di benakku. Semakin lama semakin jelas. Suaranya… raut wajah kesakitannya… perjuangannya… tawanya…. semangatnya…

“Kak? Ya udah deh, aku cari tau sendiri nanti. Ngga dijawab2 sih, ngeselin, malah bengong lagi..huh..”, renggutan kesal adikku mengembalikan pikiranku ke dunia nyata, lamunanku buyar seketika.
Sedetik kemudian, seolah melanjutkan dunia khayalku, aku bergumam lirih, “Senja, layaknya tapal batas kehidupan…”

Perlahan, warna jingga langit berganti kelam. Malam sebentar lagi turun. Lampu-lampu mulai dinyalakan, siap menerangi pekatnya malam nanti.

Gw dan Ucil Ucil Untuk Marcell,
Gudlak ya, adek tersayang :-)
Gonna miss u so much…

Juga untuk Awang, yang udah sembuh berkat perjuangannya,, keren2. Ternyata emang kisah inspiratif bukan cuma di novel aja.

Btw, istilah tapal batas gw “pinjem” dari salah satu blog yang gw kunjungin, lupa URLnya. Nanti kalo ketemu URLnya, bakal dicantumin ;-)

– Fiksi sekaligus nonfiksi

& Komentar »

  1. bintang berkata

    mmm, keren, tp masih ‘kurang cerpen’ –> jalan ceritanya kependekan,,cuma nyeritain sepotong obrolan ade kakak,,

    gimana kl di awalnya disambung ama cerita yang laen dulu?

  2. TooMs berkata

    yaa namanya juga latian tank.,.

    ngomong2 inti ceritanya. di bagian mananya gress? *bunging*

    kenapa kalo ngelyat kata tapal yg pertama keinget tu ‘tapal kuda’

  3. TooMs berkata

    yaa namanya juga latian tank.,.

    ngomong2 inti ceritanya. di bagian mananya gress? *bunging*

    kenapa kalo ngelyat kata tapal yg pertama keinget tu ‘kuda’

  4. TooMs berkata

    yaa namanya juga latian tank.,.

    ngomong2 inti ceritanya. di bagian mananya gress? *bunging*

    kenapa kalo ngedenger kata tapal yg pertama keinget tu ‘kuda’

  5. nuRr.. berkata

    horehoree.. selamat ya marcell.. ^^

  6. Ivan berkata

    Hmm.. Berat.. Berat..
    Susah komentar..

    @Tommy:
    Pengalaman sebagai “kuda”,kan? (di buku kenangan SMA)

  7. ghe2 berkata

    @bintang : kalo gitu, cersapen kali ya.. cerita sangat pendek. :-D
    Makasi kritik-sarannya, tang. Cie, sang master.. Diriku sungguh beruntung, ahahaha

    @tomy : triple comment tuh ;-)
    Tul2, namanya juga masi amatiran ^^
    Humm, emang ngga ada intinya, hee. Ga niat nyerpen sebenernya, tiba2 terlintas pas tengah malem mnuju Magelang (yang pas norak2an doodling-an itu loh, hehe),, Makanya acak adut begitu ;-) maap ya..

    @nur : makasi, enur..

    @ivan : berat? berapa gram? ancur2an begitu, hoho

  8. Petra Barus berkata

    gak ngerti……

  9. nuRr.. berkata

    ge, mo oot.. :D
    i kok asik udah bisa ‘read more’.. mau dung gee.. hehe. ajarin ya ;)

  10. Matahari meredup. Meninggalkan rona senja yang tadinya kemerahan. Kini gelap mulai merayap. Menyisakan jejak-jejak rindu akan pagi.

    Pemuda itu masih termenung, memikirkan kata-kata dari gadis tadi.

    “Apa warna hidup yang telah kamu lalui sampai saat ini?”

    Pikiran-pikiran mendung kembali berkecamuk di kepalanya.
    Kata “telah” membuatnya berharap, namun “sampai saat ini” membuatnya kembali tersadar pada kenyataan.

    Ada kalanya masa lalu tak seharusnya dipertanyakan.
    Ada sisi gelap yang tak mampu ia ungkapkan, pada siapapun.
    Meski sebenarnya, jauh di dalam hati ia berharap ada seseorang yang mau mengerti.
    Paradoks sikapnya yang kadang sulit dipahami.

    “Andai aku bisa membantumu, Dik,” gumamnya tanpa sadar saat teringat bocah lelaki yang tak mampu menyembunyikan rasa penasarannya tadi.
    “Setidaknya kau masih mempunyai kakak yang penyayang..keluarga yang harmonis,” batinnya setengah putus asa.

    Ia memandang langit malam.
    Menatap jutaan tahun cahaya ke masa lalu.
    Bintang-bintang balas menatapnya.
    Namun ia tak tahu, apakah mereka masih ada disana saat ini.

    Ada bilur-bilur haru yang sedari tadi ingin pecah. Namun masih dapat tertahan oleh egonya yang tinggi.

    Ia menghela nafas panjang.
    Untuk terakhir kalinya ia menatap beranda rumah gadis itu, yang kini mulai sepi.

    “Ahh..aku tak berhak mencampuri urusan mereka..
    toh setiap orang punya retorikanya masing-masing..”

    Ia beranjak dari lamunannya.
    Melangkah gundah di kegelapan malam.
    Mencari jalan pulang.

    Depok, 10 juli 2008
    04.46

    antara cerpen & puisi

  11. pernah tau frase “tapal batas” waktu kelas 2 esde..

    dari kalimat “Melati di Tapal Batas”

    (entah itu lagu, film atau puisi)

    lupa…

    ^ `

  12. ghe2 berkata

    @ka petra : jadi gini lho, kak. Tadinya mau bikin cerita soal warna-warni hidup, cailah.
    Kenapa tapal batas?
    Nandain sore hari, penghujung suatu hal,,entah mau diinterpretasiin hal apa.
    Lagian warna senja kan keren :-D
    Nah, belum sempet sampe ke inti cerita itu, dah males ngelanjutin,,ahaha.
    Yasudah, terpaksa diakhiri ampe situ aja deh.

    @Tedi Fiorellini : Wowowow, keren beut…mantap, mantap.. Hamba ini tiada artinya ;-)

  13. puthutp berkata

    hah? itu adeklo?

    mirip Yoga…

  14. Petra Barus berkata

    tetep gak ngerti

  15. ghe2 berkata

    @nur : gampang loh, nur ternyata. hehe,berasa jagoan gini gw :-P

    @puthut : ya iyalah,, ganteng kan? :-D

    @ka petra : Tapal batas yg dimaksud tuh akhir sesuatu, sekaligus awal sesuatu.
    huhu,, ga usah dibahas lagi ah. Emang tu cerpen sebenernya blm selese ..eh.. belum lengkap

  16. Wahyu Fahmy berkata

    Cerita yang menyentuh…. Ga ada komentar, kecuali bagus banget. Apalagi kalo dah selesai ^^

    Aku paling suka sama bagian ini: “Senja yang syahdu, warnanya memancarkan kehidupan yang sudah kulalui”

    Sementara hal yang paling mengharukan adalah bagian-nya Awang…

    By the way, iklan lewat…. Blogku dah mulai ku-update… Kapan-kapan kunjungi yach…

  17. bintang berkata

    @ TooMs
    iya tom, sori pisan tom,, ga maksud kok,,

    :D

  18. restya berkata

    kok ada yang bikin artikel dalam comment, ya?
    he2…
    iy, Ge…
    mending dbikin part2 gitu… kaya tulisannya Ochie biar ga ngambang ceritanya
    ayo lanjutin cerpennya, Ge :)

  19. ghe2 berkata

    @wahyu : :-P

    @bintang : ga maksud?

    @restya :
    kalo pake part2-an,, berarti seolah “janji” harus selese,,hehe.
    entah kapan lagi dilanjutinnya ;-)
    tapi, makasi sarannya, res..

  20. puthutp berkata

    jadi 3 bersodara yah?

    tadinya gw kira cuma 2…

  21. ghe2 berkata

    kalo sekarang gw baca ulang, kok berasa “geli” ya?? hehe..
    ini dulu untuk adek gw, konteksnya emang “perjuangan”.
    ayo2, berjuang kayak awang… :-D

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar